Cinta Saudara

“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam cinta-mencintai , sayang menyayangi, dan bantu membantu di antara sesamanya laksana sebuah jasad. Apabila salah satu bagiannya sakit, yang lain tiada bisa tidur di malam hari, dan menggigil demam.” (HR Muslim dari An Nu’man ibn Basyir)
            Umat muslim adalah satu kesatuan yang kokoh. Yang di dalamnya saling berkait dalam menyokong bangunan nan kuat. Antara muslim satu dengan muslim yang lain ialah bagaikan batu bata yang menyusun sebuah bangunan. Masing-masing berpotensi sebagai sebuah pondasi keislaman. Apabila satu sisi saja dari bangunan ini mengalami kerapuhan, maka bagian yang lain akan merasakan betapa sakitnya di seluruh bagian bangunan tersebut. Dan itulah apa yang dimaknai dengan ukhuwah.
            Dengan cinta, kita akan merasa tenang. Dengan sayang, kita akan merasa nyaman. Dan dengan tolong menolong kita bisa saling meringankan beban setiap saudara kita. Maka dalam menjalin ukhuwah, kita harus senantiasa menghadirkan cinta pada setiap kesempatan. Tidak ada kata sungkan dalam menyampaikan rasa cinta kita kepada saudara kita. Sebagai seorang mukmin, kita tidak bisa berdiam diri ketika ada saudara yang tertimpa suatu masalah, kita tunjukkan perihal kecintaan kita kepada saudara kita. Hal ini sebagaimana telah Rasulullah SAW perintahkan kepada kita. “Jika seorang di antara kamu mencintai saudaranya karena Allah, maka kabarkanlah, karena hal itu mengekalkan keakraban dan memantapkan cinta.”
            Sebagai seorang saudara, tidak semestinya kita menyakiti perasaan yang lain. Hal yang seringkali kita harus evaluasi ialah tentang kesetiaan. Acap kali kita telah bersaudara dengan sesama mukmin, lantas kita mempunyai saudara yang lain, hal itu pulalah yang membuat kita renggang dengan saudara kita  yang lebih dulu. Hal ini bisa saja terjadi ketika kita tidak memelihara secara benar tali ukhuwah kita. Tanda kesetiaan yang perlu kita amalkan agar tali ukhuwah tetap kuat yakni kita selalu mendoakan saudara kita, kita tetap hargai, konsisten dan berbuat baik terhadap saudara kita.
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah di antara kedua saudaramu, dan bertaqwalah kepada Allah, agar kamu mendapat rahmat.” (QS Al Hujurat 10)

            Persaudaraan itu terjalin karena Allah, bukan semata mata karena suatu golongan, maupun prinsip. Kita lihat kembali bagaimana ikatan ukhuwah yang terjalin di antara para sahabat. Betapa ukhuwah yang mengikat antara kaum Muhajirin dan Anshor begitu lekatnya. Ukhuwah juga yang mempersaudarakan Kaum Aus dan Khazraj sebegitu dekatnya. Tidak hanya itu, kita perlu mengambil hikmah dari persaudaraan antara Sa’ad bin Rabi’ dan Abdurrahman bin Auf. Saat itu, Sa’ad yang menawarkan setengah hartanya kepada Abdurrahman, memberikan salah satu dari dua rumahnya. Bahkan, Sa’ad bersedia menceraikan salah satu istrinya supaya dinikahi Abdurrahman.
            Atau seperti ketika salah seorang sahabat Rasulullah yang memberikan segelas air kepada salah satu teman-temannya yang sedang menggembala kambing. Kemudian air itu diberikan lagi kepada sahabat yang kedua. Sahabat kedua memberikan kepada sahabat yang ketiga, dan begitu seterusnya sampai akhirnya kembali ke orang pertama setelah tujuh kali air itu berpindah tangan. Inilah contoh nikmatnya ukhuwah ketika dilandasi cinta.
“Di mana orang-orang yang saling mencintai karena-Ku, maka hari ini Aku akan menaungi mereka dengan naungan yang tidak ada naungan kecuali naungan-Ku.” (HR Imam Muslim)
            Kita ingat ketika kisah KH Idham Cholid dengan Buya Hamka, yang masing-masing merupakan tokoh NU dan Muhammadiyah. Ketika itu mereka sedang naik kapal laut berangkat ke tanah suci. Lalu pada waktu shalat subuh, jamaah waktu itu diimami oleh KH Idham Cholid. Para pengikut NU terheran-heran ketika beliau tidak menggunakan doa qunut. Kemudian di lain kesempatan, jamaah shalat subuh diimami oleh Buya Hamka. Para pengikut Muhammadiyah pun heran ketika beliau menggunakan doa qunut, yang tidak sebagaimana biasa dipraktikkan oleh teman-teman Muhammadiyah. Setelah selesai shalat, KH Idham Cholid berpelukan mesra dengan Buya Hamka. Seperti itulah ukhuwah yang begitu dalam, ukhuwah yang terjalin dengan cinta karena Allah SWT.
“Dan jadilah kamu hamba-hamba Allah SWT yang bersaudara” (HR Al Bukhari, Abu Daud, At Tirmidzi, Malik)
            Dengan ukhuwah, kita dapat menyempurnakan iman kita. Ukhuwah semata-mata untuk mencari keridloan Allah SWT, bukan untuk kepentingan dan tujuan duniawi. Saling tolong menolong dengan saudara, bahkan mendoakan saat bersin ialah sebagai perwujudan persaudaraan.
            Ikatan ukhuwah yang kuat akan tetap berlangsung sampai akhirat. Bahkan seseorang bisa saja dikeluarkan dari panasnya api neraka karena ikatan ukhuwah ketika di dunia.
“Tidak ada perdebatan seseorang di antara kamu bagi sahabatnya dalam kebenaran yang ada di dunia yang lebih kuat daripada perdebatan orang-orang beriman kepada Rabb mereka tentang saudara-saudara mereka yang dimasukkan dalam neraka. Dia Rasulullah SAW bersabda, ‘Mereka berkata, ‘Rabb kami, saudara-saudara kami shalat bersama kami, puasa bersama kami, berhaji bersama kami, lalu Engkau masukkan mereka ke dalam neraka, maka Dia (Allah) berkata, ‘Pergilah, lalu keluarkanlah orang yang kamu kenal dari mereka...” (HR Ibnu Majah)
            Demikianlah begitu pentingnya keberadaan cinta dalam ukhuwah. Cinta yang terjalin karena Allah SWT. Yang menyatukan berbagai golongan di antara umat manusia. Yang tidak akan terkikis kebaikannya oleh masa dan keadaan. Dari masa sahabat hingga saat ini maupun yang akan datang.